Oke, ini mungkin post pertama saya dalam bahasa Indonesia di blog ini, dan sebenarnya isi dari postingan ini sendiri adalah postingan pribadi saya di tumblr dalam edisi polesan. Berhubung postingannya salinan dari tumblr, jadi harap maklum kalau isinya curhatan haha…Niatnya postingan ini mau saya buat berseri, jadi ditunggu komenan dan masukannya 😀


Belakangan ini saya berpikir, di usia saya
yang sekarang, seharusnya saya seperti teman-teman saya yang lain, sibuk di
rumah membina rumah tangga dan mengurus anak-anak bukannya sibuk ngurusin
pabrik dan hidup orang (baca: jadi asisten pribadi si Bos). 
Sebenarnya kemarin-kemarin saya sempat tertarik dengan lawan
jenis yang kelihatannya potensial, tapi setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya
nggak dulu deh hahaha, entah kenapa. 

Jadi, sebenarnya saya melajang karena sibuk
bekerja, atau sibuk bekerja karena saya melajang? 😛

Ngomong-ngomong
soal lawan jenis, jadi orang yang supel dan seneng ngobrol itu sebenarnya
seperti pisau bermata dua, terutama dalam hubungan dengan lawan jenis. 
Di satu sisi itu sangat
menguntungkan, terutama dalam urusan kerjaan (lagi-lagi kerjaan). Kita jadi
luwes dan gampang berkomunikasi sama para klien, suplier, atau buyer. Lebih
gampang juga untuk mengakrabkan diri dengan atasan. Kalau sudah begitu, insyaallah
kerjaan juga terasa lebih mudah dan santai.

Di sisi
lain, menjadi orang yang (katanya) enak diajak ngobrol dan diskusi seringkali membuat kita
hanya jadi sekedar teman diskusi, tidak lebih. Bahkan sama orang yang disukai
pun, mereka pasti hanya menganggap saya sebagai “temen ngobrol yang bisa
diajakin cerita tentang macem-macem” tanpa berpikir bahwa hey! saya juga bisa
jadi teman hidup yang potensial lho…(
self bragging binti self promotion haha)

Kadang-kadang saya berharap saya  dikasih ‘malu’ sedikit,
biar seperti perempuan-perempuan yang biasanya diidolakan oleh para lelaki.
Malu-malu kalau diajak ngobrol, kalem, dan nggak pernah mengutarakan
pendapatnya secara gamblang. Mungkin kalau saya seperti itu, para lelaki
akhirnya bisa melihat bahwa saya ini juga manusia dengan gender
perempuan yang bisa menjadi pasangan hidup dan berkembang biak. Berkali-kali
saya dekat dengan lawan jenis, dan berkali-kali pula status saya mentok di
partner ngobrol ngalor-ngidul atau teman diskusi. Friend zone specialist kali ya, saya ini 😛
sandal_pasangan
Kata orang, sendal aja ada pasangannya


Mungkin
sebenarnya ini hanya masalah persepsi dan kedewasaan, mungkin. Konon katanya
laki-laki itu lebih lama proses pendewasaanya jika dibandingkan dengan
perempuan, makanya ada istilah “Boys
will be boys,”
segala. Kebanyakan relasi dan atasan saya yang usianya sudah
cukup berumur (35++ dan foreigner) bilang
kalau saya perempuan yang menarik karena enak diajak diskusi dan kaget ketika
bilang saya sama sekali belum pernah punya hubungan spesial dengan lawan
jenis. “Padahal penampilan kamu cukup oke dan kamu orangnya enak diajak
ngobrol lho,” atau “Kalau di J****(negara asal para relasi dan bos saya) kamu
pasti populer,” dsb (another self-bragging, sorry
not sorry). 
Sayangnya
kebanyakan laki-laki di rentang usia saya (mid. 20 – awal 30) tidak mencari
perempuan yang seperti saya. Bukan maksud menggeneralisir, tapi kebanyakan laki-laki
sebaya di sekitar saya lebih suka dengan tipe perempuan yang ala-ala manis
manja grup. Bisa diajak ngobrol, but not that far, misalkan berdiskusi tentang peradaban Atlantis atau hal-hal lain yang sedalam palung laut dan serumit benang kusut *lebay*. Saya sempat bertanya sama
teman dekat saya yang laki-laki alasan kenapa tidak ada laki-laki yang tertarik
dengan saya dan jawabannya adalah “Karena kamu kurang manja,” Titik. Full Stop. Period.


Kalau sudah
begitu saya juga bingung, karena saya nggak terbiasa bermanja-manja dengan
orang lain (anak sulung FTW!) dan kalau saya coba-coba besikap manis dan manja,
orang-orang protes, bilangnya gak pantes, aneh, dan nggilani (plus
saya sendiri pun nggak nyaman kalau harus bersikap manis manja seharian).
Sepertinya saya memang harus mencari pasangan yang usianya jauh diatas saya,
biar tingkat kematangannya’pas’ (ya kali spaghetti
al-dente
*kemudian lapar*) yang paham kalau perempuan itu tidak hanya
sekedar manis dan manja. Karena  kehidupan pernikahan itu bukan sekedar
cinta, tapi lebih ke partner hidup (eaaa mulai ngawur). Kalau kata temen kantor
saya sih, saya harus SIANIDA, SIAp NIkah sama duDA ←judul lagu Dangdut
kekinian. 
Okay, whatever.



Kalau kalian sendiri bagaimana? Punya pertanyaan yang menghantui kehidupan melajang kalian atau sempat menghantui semasa lajang? Boleh dibagi di kolom komennya kakak 😀